Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 April 2017

Pengertian Konsep Belajar Tuntas

Pengertian Konsep Belajar Tuntas adalah suatu sistem belajar yang menginginkan sebagian besar peserta didik dapat menguasai tujuan pembelajaran secara tuntas. Konsep Belajar Tuntas sebagai cara belajar mengajar sangat menguntungkan bagi siswa karena setiap siswa dapat dikembangkan secara optimal.

Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati mengemukakan bahwabelajar tuntas adalah pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan untuk setiap unit bahan pelajaran baik secara perorangan maupun kelompok sehingga apa yang dipelajari siswa dapat tercapai semua”.



Menurut Suryosubroto, belajar tuntas adalah suatu filsafat yang mengatakan bahwa dengan sistem pengajaran yang tepat semua siswa dapat belajar dengan hasil yang baik dari hampir seluruh materi pelajaran yang diajarkan di sekolah.

Kunandar dalam bukunya  guru propesional implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)  dan persiapan menghadapi sertifikasi guru mengatakan bahwa  ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Kriteria ideal  ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran.  Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus-menerus untuk mencapai ketuntasan ideal.

Konsep Belajar Tuntas

Pembelajaran tuntas (Mastery Learning) dalam KTSP adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan siswa menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengukuran kemampuan siswa dalam penelitian ini disesuaikan dengan pelaksanaan belajar tuntas, yaitu adanya program perbaikan/program remedial, yakni jika siswa belum mencapai ketuntasan yang ditetapkan, maka siswa diberi program perbaikan sampai mencapai ketuntasan.

Ciri pertama penilaian pendidikan yaitu penilaian dilakukan secara tidak langsung, misalnya dengan mengukur kepandaian dengan ukuran kemampuan menyelesaikan soal-soal, yaitu dilakukannya evaluasi. Alat yang digunakan dalam evaluasi ada 2 macam, yaitu tes dan non tes. Tes merupakan suatu alat pengumpul informasi yang fungsinya untuk mengukur hasil belajar siswa dan mengukur keberhasilan program pengajaran. Sedangkan teknik bentuk non tes untuk menilai sikap, minat, dan kepandaian siswa, melalui teknik wawancara, angket dan observasi. Dari uraian tadi dapat diketahui bahwa kemampuan dapat diukur melalui tes, tes juga dimaksudkan untuk mengukur ketuntasan belajar siswa.    
Referensi
  • Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993),
  • Suryosubroto B,  Proses belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997),
  • Kunandar, Guru propesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
  • (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru,  (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), Ed. 1

Selasa, 04 April 2017

PENGERTIAN,KONSEP DASAR, DAN MANFAAT PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER SERTA HAL PENTING TERKAIT PPK YANG WAJIB GURU PAHAMI

A. Pengertian Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) adalah Program pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati , olah karsa, olah pikir, dan olah raga dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah , keluarga ,dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

B. Urgensi Penguatan Pendidikan Karakter
Urgensi PPK ada 3:
1. pembangunan SDM merupakan pondasi pembangunan bangsa.
2.  Keterampilan abad 21 yang dibutuhkan siswa guna mewujudkan keunggulan bersaing Generasi Emas 2045:
Kualitas Karakter
Literasi Dasar
Kompetensi 4C. Yang dimaksud kompetensi 4 C yaitu Critical Thinking an Problem Solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah), Creativity (kreativitas), Communication Skills (kemampuan berkomunikasi), dan Ability to Work Collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama)
3. Kecenderungan kondisi degradasi moralitas, etika, dan budi pekerti.

C. Latar Belakang PPK
1. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Nlaha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."
2. Agenda Nawacita No. 8 
Penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental.
3. Trisakti 
Mewujudkan Generasi yang Berkepribadian dalam Kebudayaan.
4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 
"Penguatan pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memperkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran"
5. Mempersiapkan Generasi Emas 2045 yang bertaqwa, nasionalis, tangguh, mandiri, dan memiliki keunggulan bersaing secara global. 

6. Arahan Khusus Presiden kepada Mendikbud untuk memperkuat pendidikan karakter. 
D. Tantangan dan Urgensi PPK
1. Harmonisasi pengembangan potensi siswa yang belum optimal antara olah hati (etik), olah pikir (literasi), olah rasa (estetik), dan olah raga (kinestetik)
2. Besarnya populasi siswa, guru, dan sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia
3. Belum optimalnya sinergi tanggungjawab terhadap pendidikan karakter anak antara sekolah, orang tua dan masyarakat
4. Tantangan globalisasi Pengaruh negatif teknologi informasi dan komunikasi terhadap gaya h dup remaja, serta pudamya nilai-nilai religiusitas dan kearifan lokal bangsa
5. Terbatasnya pendampingan orang tua mengakibatkan krisis identitas dan disorientasi tujuan hidup anak
6. Keterbatasan sarana belajar dan infrastruktur Prasana dan sarana sekolah, sarana transportasi, jarak antara rumah siswa ke sekolah (jalur sungai, hutan), sehingga PPK diimplementasikan bertahap.

E. Prinsip Pengembangan, Implementasi, dan Evaluasi PPK
1. Sepuluh (10) Prinsip Pengembangan PPK:
-Nilai-Nilai Moral Universal 
-Pendekatan Sinkronisasi 
-Pendekatan Integral Prinsip
-Terukur dan Objektif Prinsip
-Pelibatan Publik Prinsip 
-Kearifan lokal Prinsip 
-Keterampilan Abad 21 
-Revolusi Mental Prinsip 
-Adil dan inklusif Prinsip 
-Evaluasi Program 
F. Manfaat dan Implikasi Program PPK

1. Enam (6) Manfaat Program PPK:
Penguatan karakter siswa dalam mempersiapkan daya saing siswa dengan kompetensi abad 21, yaitu: berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
2. Aspek Penguatan:
Revitalisasi manajemen berbasis sekolah melalui Broad Based Education (BBE) 
Sinkronisasi intra kurikuler, ko kurikuler, ekstra kurikuler, dan non kurikuler, serta sekolah terintegrasi dengan kegiatan komunitas seni budaya, bahasa dan sastra, olahraga, sains, serta keagamaan 
Deregulasi penguatan kapasitas dan kewajiban Kepala  Sekolah/Guru 
Penyiapan prasarana/sarana belajar (misal: pengadaan buku, konsumsi, peralatan kesenian, alat peraga, dll) melalui pembentukan jejaring kolaborasi pelibatan publik.

Senin, 03 April 2017

Sekolah, Mencari Ilmu atau Nilai?

Banyak orang bilang, belajar di sekolah itu untuk mencari ilmu. Sekarang mari kita tilik kenyataan yang ada. Pada saat masih kecil (TK/PG) sekolah merupakan sesuatu yang menyenangkan, sekolah tempat main dan belajar. Belajar pun terkadang terasa seperti bermain.

Beranjak ke Sekolah Dasar (SD), orang tua mulai terlihat menuntut. Beliau-beliau bilang sekolah itu tempat menuntut dan mencari ilmu. Selain di sekolah tidak ada tempat lain yang menyediakan fasilitas pembelajaran sekondusif di sekolah. Ok, itu benar, mari kita lihat ada apa di dalam sebuah sekolah dasar.

Di sana anak-anak belajar mempelajari apa yang diajari oleh bapak/ibu gurunya. Setiap ada pertanyaan, selalu bisa menjawab. Setiap ada tugas dikerjakan. Kemudian anak-anak akan memperoleh sesuatu yang disebut dengan nilai. Sekolah dasar merupakan dasar dari segala pelajaran. Setelah mengamati dan merasakan menjadi anak SD ada satu pikiran yang mengganjal. Bagaimana sebaiknya memperkenalkan ilmu pada anak-anak agar mau belajar dan menguasai ilmu tersebut? apabila dengan patokan nilai, muncul lagi sebuah pertanyaan. Bagaimana seorang guru mampu memahami murid yang diampunya? apakah hanya dengan nilai-nilai-nya saja? Dapatkah seorang guru meng-handle sekian puluh murid dalam satu waktu?

Beranjak ke SMP. Di SMP, pergaulan dan teknologi sudah semakin maju dan dikenal. Ada siswa yang saat pelajaran tidak pernah memperhatikan, kalo ditanya ga bisa jawab, tiba-tiba saat ulangan dia dapat nilai bagus, bukan karena ia mampu, tapi karena dapat "bisikan setan" (baca: contekan dan semacamnya) saat pembagian rapor, anak itu naik kelas dengan hasil yang sangat bagus, tetapi tidak dengan kawannya yang sudah berusaha mati-matian untuk mengerti segala macam ilmu dan yang hasil yang ia dapatkan tidak sebanding dengan apa usahanya.

Naik tingkat lagi ke SMA/SMK Muncul sebuah pemikiran, sebenarnya untuk apa masuk SMA kalo ilmunya ga kepake? apakah masih tergantung gengsi? mending masuk SMK kalau melihat hasil dalam jangka pendek. SMK sebenarnya malah lebih menjanjikan sebuah profesi dari pada SMA. Di SMA, proses pembelajaran tidak jauh berbeda dari SMP hanya saja materinya jauh lebih mendalam dan lebih susah. 

Fakta yang terjadi saat SMA. Saat pembelajaran, siswa merasa masa bodoh dan berpikiran "Yang Penting Dapat Nilai Bagus". Akhir dari pertanyaan ini adalah, apakah sekolah masih bisa objektif dalam menilai siswa ? apabila iya, mengapa Nilai kognitif masih mendapat tempat superior dalam penilaian akhir? padahal yang digunakan dalam kehidupan nyata BUKANLAH TEORI tetapi PRAKTEK.

Geser Finlandia, Siswa Korea Selatan Jadi yang Terpintar di Dunia. Ini 5 Rahasia Dibaliknya

Disamping drama Korea atau K-Pop idol, ada satu hal lagi yang patut dibanggakan oleh Korea Selatan. Sejak tahun 2012, Korsel telah menempati posisi teratas di dunia dalam kategori kualitas pendidikan dan sekolah. Siswa usia sekolah di Korsel memiliki kemampuan menyelesaikan persoalan matematika, science, maupun tingkat literasi yang lebih tinggi dari siswa negara manapun di dunia. Bahkan kebanyakan siswa Korea mampu menyelesaikan soal matematika kelulusan SMA-SMA di Eropa yang idealnya dikerjakan dalam durasi 1 jam, hanya dalam waktu 15 menit saja.
Bagaimana siswa-siswa di Korsel itu bisa begitu pintarnya? Uniknya jika sekilas dibandingkan dengan juara sebelumnya di tahun 2012 yaitu Finlandia, sistem pendidikannya justru berbeda jauh. Finlandia menekankan kualitas dibandingkan kualitas jam belajar, dengan 5 jam sekolah disertai banyak jam istirahat. Sedangkan di Korsel, siswa sekolah terutama anak-anak SMA seringkali baru pulang sekolah jam 10-11 malam. Bukan karena nongkrong bareng teman di mall atau jalan-jalan sore untuk cuci mata, mereka benar-benar duduk manis belajar di sekolah sampai jam 10 malam. Penasaran ‘kan alasan dibalik dedikasi waktu tinggi untuk pendidikan yang menurut kita kelewat ekstrem itu? Yuk disimak bersama!

1. Sejak zaman Joseon, pendidikan sudah diyakini sebagai satu-satunya jalan untuk memperbaiki nasib dan naik status dalam kelas sosial

 Rakyat jelata bisa bermartabat jika masuk akademi pendidikan Sungkyunkwan via www.kdramalove.com

Sistem kelas sosial yang kaku di kerajaan Korea, dimana garis keturunan menentukan apakah kamu termasuk kelompok bangsawan atau jelata mulai berubah di dinasti Joseon. Tiap tahunnya rakyat jelata diberi kesempatan mengikuti ujian nasional untuk jadi pegawai kerajaan yang strata sosialnya setara dengan bangsawan. Bagi orang Korea sejak itulah pendidikan diyakini sebagai jalan keluar satu-satunya untuk keluar dari kemiskinan sekaligus menaikkan martabat keluarga untuk generasi selanjutnya. Wajar saja jika pendidikan dipandang sebagai pertarungan hidup dan mati dalam konteks budaya tersebut. Dan ternyata nilai tradisional itu masih mengakar kuat hingga saat ini.

2. Meski tak ada lagi pemisahan antara bangsawan atau rakyat jelata, ujian nasional masuk perguruan tinggi bergengsi itu masih dianggap pertarungan hidup dan mati untuk harga diri


Jika ditanya apa yang tidak berubah di Korea sejak zaman Joseon hingga sekarang, mungkin jawabannya adalah obsesi rakyatnya terhadap ujian nasional. Kecenderungan menilai ‘kualitas’ seseorang dari hal-hal materiil seperti kepemilikan harta maupun lulusan dari universitas mana, pastilah tidak hanya terjadi di Korsel. Tapi lebih dari negara lain, masyarakat Korsel tampaknya terobsesi dengan riwayat pendidikan untuk mengukur kesuksesan seseorang. Buktinya hampir semua pegawai yang direkrut Samsung, Hyundai, atau perusahaan raksasa lain hanyalah mereka yang berasal dari universitas SKY atau Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University di Seoul.
Alhasil, almamater tak pelak jadi identitas diri yang selalu melekat sepanjang hidup. Mereka yang bisa masuk SKY, otomatis dianggap memiliki masa depan cerah. Yang gagal diyakini hidupnya bakal biasa saja. Banyak juga yang terus mencoba sampai bertahun-tahun lamanya. Hari ujian masuk perguruan tinggi sudah dianggap layaknya perayaan nasional. Semua orang turun ke jalan memberi semangat mereka yang ujian. Seakan-akan akan maju ke medan perang.

3. Untuk ujian terpenting dalam hidup itu, pelajar SMA di Korsel rela hanya tidur 4-5 jam per hari. Sekolah buka sampai jam 11.30 untuk menyediakan ruang belajar malam bagi siswa


Yang dapat pertukaran pelajaran di Korea semasa SMA, pasti sudah paham realita mencengangkan ini. Meski jam sekolah secara resmi berakhir sore sekitar jam 3, pelajar SMA tidak akan meninggalkan sekolah sampai larut malam. Ada sesi belajar mandiri yang wajib dilakukan oleh siswa setelah jam sekolah berakhir. Siswa diharapkan belajar sendiri di ruang kelasnya dengan guru jaga yang sesekali berkeliling mengecek. Mereka yang termasuk golongan rajin, seringkali akan belajar di sekolah sampai tutup mendekati tengah malam. Karena guru dan orangtua sama-sama menanamkan keyakinan bahwa ujian masuk perguruan tinggi adalah hal terpenting dalam hidup sejak kecil, banyak siswa yang benar-benar rela belajar sampai tengah malam di sekolah.

4. Disamping belajar di sekolah, hagwon atau tempat-tempat les juga jadi saksi nyata dedikasi tinggi pelajar Korea. Saking populernya, guru-guru hagwon sampai terkenal bak selebriti

Disiarkan bak selebriti, video tutor terkenal pun laris via daumcdn.net 
 
Kalau tidak belajar di sekolah, maka dipastikan anak-anak SMA kelas 3 di Korsel akan dapat kamu temui di hagwon atau tempat les. Dari hagwon biasa sampai yang spesialisasi matematika atau Bahasa Inggris, ada semua. Bisnis hagwon adalah salah satu bisnis paling menguntungkan di Korsel. Salah satu faktornya adalah kesediaan orangtua membayar biaya berapapun demi pendidikan anak. Korsel adalah negara dimana pengeluarannya untuk pendidikan privat seperti hagwon, tertinggi di dunia. Banyak keluarga yang menghabiskan lebih dari sepertiga total pendapatannya, hanya untuk biaya hagwon anaknya. Tak jarang juga keluarga Korea rela terpisah atau berpindah rumah demi bisa mendekatkan diri dengan sekolah atau hagwon terbaik.

5. Jika dilihat dari ranking kualitas pendidikan paling baru, dedikasi tinggi dari semua pihak itu jelas terlihat hasilnya. Tapi apakah obsesi terhadap pendidikan ini akan baik untuk masa depan Korsel?

Banyak orang Korsel yang tidak menikmati masa mudanya via photobucket.com

Siswa Korsel memang terbukti jadi yang paling unggul ketika diberi tugas menyelesaikan soal-soal ujian. Tapi ternyata keunggulan tersebut tidak bertahan ketika usia responden digeser jadi usia kerja di umur 30-an, dimana hidup penuh tantangan nyata yang lebih sulit dibanding soal ujian. Keunggulan pendidikan Korsel itu tampaknya luntur di dunia kerja yang masih sangat kaku. Karena deskripsi sukses yang sangat sempit, banyak lulusan dengan nilai baik pun memilih menganggur dibandingkan bekerja di perusahaan tidak bergengsi. Sistem pendidikan yang terobsesi dengan nilai dan kuantitas jam ini, tampaknya justru bukan indikasi yang baik dalam jangka panjang.
Belum lagi masalah-masalah sosial yang timbul dari gaya hidup ekstrem warganya yang terobsesi dengan pendidikan. Sudah rahasia umum bahwa Korsel juga menempati peringkat pertama terkait kasus bunuh diri remaja usia sekolah. Tiap tahunnya banyak cerita pilu dari siswa-siswa yang melompat di atap sekolah karena tidak tahan dengan tekanan untuk terus belajar.
Pemerintah Korea sudah mulai menanggapi kritikan tersebut dengan menerapkan beberapa aturan baru, seperti adanya curfew atau jam malam bagi hagwon atau sekolah untuk tutup lebih awal. Sekolah-sekolah juga dihimbau untuk memperbanyak aktivitas di luar kelas seperti festival olah raga. Tapi selama sikap masyarakat secara keseluruhan tidak berubah, anak-anak ini sendiri akan terus merasa tertekan untuk terus mendapatkan nilai tertinggi dan masuk universitas terbaik. Efektif sih, tapi nyata tak baik bagi masa depan.

 

 


 


 

Selasa, 21 Maret 2017

Tips Menghadapi Siswa “Nakal”

Sebagai insan yang berada di sebuah lembaga pendidikan, apalagi Sekolah Menegah Kejuruan yang notabene siswanya adalah laki-laki menghadapi siswa “nakal” adalah hal yang biasa. Mulai dari siswa yang sering terlambat atau bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas/ PR, ribut di kelas, jajan saat jam pelajaran, tidak sholat, dan masih banyak contoh “kenakalan” lain yang kerap dilakukan siswa. Hal-hal tersebut memang benar-benar menguji kesabaran kita. Dibutuhkan kesabaran dan keuletan tingkat tinggi.

Sebenarnya apakah benar ada anak diberi label “nakal”? Penulis sendiri tidak setuju bila ada siswa yang dilabeli “nakal”. Apalagi tidak sedikit guru yang memberi label “nakal” apabila ia merasa tidak sanggup mengendalikan siswanya. Di sisilain ukuran “nakal” tiap guru berbeda-beda. Sebagian guru akan menganggap siswanya “nakal” bila siswanya tidak mengerjakan PR, guru lain berpendapat siswa yang sering bolos/ tidak masuk sekolah adalah siswa yang “nakal”, sebagian lainnya menganggap siswa yang ribut saat pembelajaran adalah siswa yang “nakal”. 


Menurut saya tidak ada yang namanya siswa “nakal”, yang ada adalah;


  • Siswa yang krisis identitas. Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan siswa terjadi karena siswa gagal mencapai masa integrasi kedua.
  • Siswa yang memiliki kontrol diri yang lemah. Siswa yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
  • Siswa yang kurang kasih sayang orang tua. Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan menyebabkan kurang perhatian kepada anaknya. Tidak mengenalkan dan mengajarkan norma-norma agama kepada anaknya. Akibatnya dia akan sering bolos atau terlambat sekolah. Saat di sekolah ia akan berulah macam-macam untuk mendapat perhatian dari orang lain, termasuk kepada gurunya.
  • Siswa yang kedua orang tuanya tidak harmois atau bahkan bercerai. Suasana di rumah yang tidak nyaman akan menyebabkan anak tidak fokus saat pelajaran. Kedua orang tua yang seharusnya melidungi dan memberi contoh yang baik justru menjadi akar permasalahan anaknya.
  • Siswa yang menjadi “korban” dari saudara atau teman sepermainannya. Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah ‘korban’ dan berusaha untuk membalas dendam.
  • Siswa yang mendapat tekanan dari orang tua. Tekanan ini bisa berupa tuntutan orang tua yang terlalu tinggi akan prstasi anaknya di sekolah atau peraturan di rumah yang terlalu ketat/ mengekang. Akibatnya bisa bermacam, siswa bisa pendiam tapi juga bisa “nakal” karena merasa ingin bebas.
  • Siswa yang mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya masalah ekonomi. Siswa yang mengalami kekerasan di rumah, maka saat di sekolah ia akan menunjukkan sikap memberontak kepada gurunya atau bahkan melakukan kekersaan seperti apa yang ia alami.
  • Siswa yang salah bergaul. Lingkungan memang sangat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sikap siswa. Pergaulan yang kurang tepat atau menyimpang salah bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang.
Itulah beberapa sebab mengapa siswa berperilaku “nakal” saat di sekolah. Saat kita tahu latar belakang masalah perikau murid kita, tentunya kita akan merasa iba dan kasihan. Oleh karena itu mari kita sebagai pendidik mulai untuk menghentikan label negatif kepada siswa.

Beberapa tips di bawah ini bisa kita coba untuk mengatasi perilaku siswa yang “nakal”, adalah:
  1. Berdo’a untuk anak terebut. Ucapkan namanya setiap kita berdo’a. Berharaplah apa yang kita minta akan dikabulkan Allah dan saat kita menghadapinya Allah mengkaruniakan kesabaran pada diri kita. Yakinlah dia akan berubah, karena keyakinan itu adalah doa. Dia pasti berubah, entah itu besok, lusa, atau kapanpun.
  2. Carilah info yang lengkap tentang siswa yang dianggap “nakal”. Tujuannya adalah agar kita lebih paham tentang latar belakanngya. Harapanya kita akan lebih bisa bersabar dan pengertian dalam menangani perilakunya.
  3. Hentikan ucapan atau label “nakal” pada siswa tersebut. Kita tahu ucapan adalah do’a. jika kita mengucapakan kata nakal, secara tidak langsung kita berdo’a agar dia menjadi nakal. Katakanlah yang baik-baik untuknya, walau bagaimana pun perilaku dan perkataannya.
  4. Panggilah dia ke runag BK atau masjid. Ajaklah dia berbicara empat mata dan dari hati ke hati. Tanyakanlah kepada siswa tersebut tentang harapannya, permasalahannya, atau sebab dia berbuat “nakal”. Dengan hal ini kita jadi lebih tahu tentang dirinya dan permasalahan yang sedang ia hadapi. Pada akhirnya, berilah ia solusi, motivasi dan arahan.
  5. Latilah dia dengan rasa tanggung jawab. Hal ini bisa dilakukan dengan kita memberikan dia kepercayaan. Contoh: menjadi muadzin, mengumpulkan kas kelas, membantu kita merekap buku tabungan, atau dengan melibatkan dia dalam kegiatan OSIS dan ROIS (meskipun dia bukan penggurus OSIS dan ROIS). Hal ini akan membuat dia merasa dibutuhkan dan diperhatikan. Tujuan akhirnya adalah agar dia tahu mana hak dan kewajibannya/ tanggung jawabnya sebagai siswa.
  6. Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”. Maka, tergurlah dengan pelan-pelan dan jangan dibentak atau dimarahi. Karena siswa tipe seperti ini tidak akan berubah bila dimarahi. Mereka butuh didekati, diperhatikan, dan diajak berdiskusi, serta berilah mereka motivasi agar bisa berubah menjadi lebih baik. Katakan pada mereka “saya yakin kamu bisa lebih baik lagi dari kamu yang sekarang”. “saya akan merasa bangga bila kamu bisa lebih baik dari kamu yang sekarang”.
  7.  Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”. janganlah diberikan hukuman fisik, seperti push up, set up, atau jalan jongkok. karena, hal ini justru akan menimbulkan rasa dendam dan jiwa melawan/ membangkang pada siswa. Tapi berikanlah dia hukuman seperti sholat dhuaha atau membaca Al-Qur'an.
  8. Buatlah perjanjian bila siswa tersebut berbuat “nakal”. Rekamlah dengan HP dan suruhlah dia mengucapkan janji agar tidak mengulangi perbuatannya. Bila dia mengulangi lagi, panggillah siswa tersebut dan putarlah rekamannya.
  9. Berilah dia pilihan. Berbuat baik konsekuensinya baik atau berbuat “buruk” konsekuensinya buruk.
  10. Bila siswa tersebut berbuat baik. Maka, pujilah dia. Pujian kita akan mebuat dia merasa bahwa usahanya dihargai dan diperhatikan oleh orang lain.
Itulah sedikit tips dari penulis. Semoga dapat memberikan manfaat. Prinsipnya adalah tidak ada siswa yang “nakal”. Yang ada adalah siswa kurang perhatian dan salah bergaul. Percayalah mereka bisa berubah. Perubahan itu akan bisa terjadi bila dimulai dengan strategi dengan menggunakan pendekatan hati. Bisa melalui tangan kita, atau mungkin tangan orang lain. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

Sumber:

Guru Sejati dan Revolusioner

Setiap orang pasti sepakat kalu seorang guru harus menjadi teladan bagi siswa dan masyarakat. Bukahkah guru itu digugu lan ditiru. Namun, apakah guru cukup menjadi teladan? Menurut penulis tidak. Mengapa? Karena guru juga harus sejati dan revolusioner. Artinya, yang perlu disoroti di sini juga semangat guru dalam mengemban tugas mulianya.

Secara implist, bisa disimpulkan ada “guru sejati” dan “guru aspal”. Guru sejati adalah meraka yang menjalankan tugasnya dengan
penuh semagat keikhlasan dan semangat revolusioner mendidik anak bangsa. Sedangkan guru aspal adalah mereka yang berorientasi pada “rupiah” belaka, mengajar tanpa mendidik, memenuhi presensi tanpa menjadi motivator sejati bagi siswa di sekolah.

era global seperti ini memang menuntut guru untuk menjadi pragmatis. Artinya, guru butuh kesejahteraan dan kemakmuran. Dan hal itu salah satunya diperoleh dari tugasnya sebagai guru di lembaga pendidikan. Di sisi lain munculnya kebijakan sertifikasi semakin menjadikan guru salah niat dalam mengajar. Padahal kebijakan tersebut seharusnya menjadikan guru lebih kreatif, inivatif, dan profesional dalam mengemban misi mencerdaskan anak bangsa, bukan sekedar mengejar rupiah. Oleh karena itu, hal ini harus segera diluruskan.

Lalu bagai mana caranya? Caranya adalah dimulai dari mencegah munculnya guru aspal. Karena apa artinya rupiah, jika guru tidak biasa menjalankan tugas sucinya. Maka sebagai insan pendidikan, hal itu harus disikapi guru dengan arif. Salah satunya adalah dengan mencegah munculnya guru aspal dengan beberapa solusi dan trobosan yang efektif. Setidaknya ada beberapa cara, antara lain:

Pertama, memperketat penerimaan guru, baik sekolah berstatus swasta maupun negeri, PNS atau GTT. Mengapa demikian? Karena, selama ini masih banyak orang masuk sekolah dan menjadi guru hanya “berbasis KKN”. Artinya, asalkan punya kenalan pihak sekolah/dinas, asalkan punya uang ratusan juta rupiah, maka akses masuk jadi guru juga mudah.

Kedua, mempertegas aturan dan kiteria atau syarat menjadi guru. Selama ini, penerimaan guru tidak ketat dan kriterianya tidak jelas. Kita ketahui bahwa setidaknya seorang guru harus memiliki empat kompetensi pendidikan, yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Ketiga, guru harus linier, sesuai jurusannya. Artinya, jika guru itu lulusan Pendidikan Agama Islam, maka yang diajar gura mata pelajran agama Islam pula. Masih sering kita jumpai fakta di lapangan, guru mengajar tidak sesuai dengan bidangnya. Misalnya, lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia mengajar materi bahasa Inggris, lulusan Pendidikan Biologi mengajar materi Ekonomi, dan sebagainya.

Yang jelas dan utama adalah guru harus memenuhi kualifikasi akademik dan kriteria plus-plus. Artinya, selama ini banyak guru yang pandai secara akademik, namun tidak mampu menjadi pendidik yang mampu memberikan motivasi dan semangat bagi siswanya. Inilah yang disebut dengan “kemampuan puls-plus” yang jarang dimiliki oleh guru. Bahkan banyak guru killer yang ditakuti siswanya, guru yang selalu memakai metode CBSA (Catat Buku Sampai Abis), guru yang mengajar ala kadarnya, banhkan guru yang centil/gatal kepada sisiwinya, dan masih banyak contoh lainnya. Inilah yang perlu dibenahi, jangan sampai guru aspal merusak pendidikan di negara ini.

Guru Revolusioner
Apakah cukup dengan itu, guru menjadi penentu pendidkan di negara ini? Tentu tidak, yang tak kalah urgen adalah perlunya guru revolusioner yang mengajar penuh dengan motivasi tinggi dengan semangat memajukan pendidikan Indonesia. Menurut Dian Marta Wijayanti, guru revolusioner memiliki beberapa ciri.

Pertama, dia selalu mengajar penuh rasa ikhlas tanpa pamrih. Artinya, dia tetap butuh kesejahteraan, tetapi bukan itu tujuannya. Mengapa? Karena menjadi guru bukanlah tujuan, karena posisi guru hanyalah alat untuk berbuat baik lebih banyak lagi dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia yang masih jauh dari harapan.

Kedua, memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi. Artinya, bagai mana mungkin siswa akan bersikp disiplin kalau gurunya tidak.

Ketiga, selalu menjadi dambaan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa agar semangat dalam mencari ilmu, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Keempat, mampu mengajarkan kepada siswa, bahwa hidup tidak sekedar menjadi manusia berilmu, akan tetapi juga beriman dan beramal.

Kelima, selalu mengajarkan kepada siswa bahwa hidup bukan sekedar “mejadi apa” (to be), tapi yang lebih penting adalah “berbuat apa” (to do).

Inilah yang harus ditanamkan kepada siswa. Dengan demikian, wajah pendidikan kita akan semakin berseri-seri, jika para gurunya sejati dan revolusioner, bukan aspal.

Maka dari itu jadilah guru sejati dan revolusioner, bukan aspal. Bagaimana menurut Anda?

Keterangan:
Tulisan ini terinspirasi dari Artikel berjudul “Guru Revolusioner”, karya Dian Marta Wijayanti (Suara Merdeka edisi 19/10/2013)