Tampilkan postingan dengan label SISWA KREATIF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SISWA KREATIF. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2016

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MELALUI KONSEP DIRI YANG POSITIF

1. Pengenalan perasaan. Terdapat beberapa macam perasaan yaitu : marah, senang, sedih, takut,              jengkel, kecewa, lega, puas, bangga, terharu.

2. Perasaan-perasaan di atas (no.1) akan kita rasakan saat kita mendapatkan nilai bagus atau nilai             jelek. Sebagai contoh :
     – Saat saya mendapatkan nilai 0 pada ulangan matematika maka saya akan merasa sedih.
     – Saat saya mendapatkan nilai 10 pada ulangan matematika maka saya akan merasa senang.
     – Saat saya belajar 10 rumus dan 10 rumus tersebut diujikan dalam ulangan maka saya merasa               lega.
    – Saat saya belajar 10 rumus dan 10 rumus tersebut tidak diujikan dalam ulangan maka saya akan           merasa kecewa.

3. Berdasarkan kemungkinan-kemungkinan perasaan yang akan muncul saat saya mengerjakan               ulangan maka saya perlu mempersiapkan diri saya. Sebagai contoh : Tidur yang cukup- saya               membutuhkan waktu tidur 60 menit, makan yang cukup- saya membutuhkan waktu makan 15             menit, belajar yang cukup – saya membutuhkan waktu belajar selama 1 jam.

4. Setelah saya mengenali perasaan-perasaan saya maka saya memiliki kewajiban untuk menyusun         pandangan diri tentang saya. Atau yang biasa disebut dengan konsep diri yakni : bagaimana saya          memandang diri saya.
Sebagai contoh :
a. Saat saya belajar 10 rumus dan 10 rumus tersebut diujikan dalam ulangan maka saya merasa              lega, kemudian saya merasa percaya diri dalam mengerjakan ulangan. Pandangan saya terhadap           mata pelajaran tersebut menjadi positif atau saya merasa bahwa saya mampu mengerjakan                   ulangan.
b. Saat saya belajar 10 rumus dan 10 rumus tersebut tidak diujikan dalam ulangan maka saya akan         merasa kecewa, kemudian saya merasa tidak percaya diri dalam mengerjakan ulangan. Pandangan       saya terhadap mata pelajaran tersebut menjadi negatif atau saya merasa bahwa saya tidak mampu        mengerjakan ulangan.
c. Berdasarkan dari contoh a dan b disarankan anak-anak dapat menilai diri sendiri lebih TELITI            dan HATI-HATI. Artinya: anak-anak mampu menyebut diri sendiri “Saya mampu pada pelajaran        matematika karena saya ….. sehingga saya perlu ……” begitu juga sebaliknya “Saya tidak                  mampu pada pelajaran matematika karena saya …… sehingga saya perlu ……”

5. Saat anak-anak dapat menilai kemampuan diri dengan tepat maka akan menumbuhkan semangat        belajar (motivasi belajar) untuk mencapai nilai atau hasil yang lebih baik. Sebagai contoh : Dulu        saya tidak bisa perkalian saat ini saya mampu melakukan perkalian dengan baik, cepat dan teliti.        Kemudian, saya menilai bahwa kemampuan perkalian saya membutuhkan waktu atau proses               belajar. Sehingga, sekarang saya mampu mengerjakan perkalian dengan membutuhkan waktu 45          menit.

KETRAMPILAN DI ABAD 21 YANG WAJIB DIMILIKI SISWA


Bertempat di Yayasan Salman Al Farisi Bandung, kami mengikuti Sosialisasi Pengembangan Kurikulum 2013 yang diisi oleh Bapak Wahono Widodo, Prodi Pendidikan Science MIPA UNESA.
Dalam kaitannya dengan pemberlakuan Kurikulum 2013 yang mengharuskan dunia pendidikan memperbaharui terus kurikulumnya agar tidak ketinggalan jaman. Konteks tidak ketinggalan jaman ini merujuk kepada kebutuhan dunia pendidikan akan kurikulum yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan abad 21.

Menurut Pak Wahono, abad 21 sangat memerlukan keterampilan terutama dalam hal-hal berikut :

1. Creativity and Innovation

Manusia yang akan sukses di abad 21 adalah orang-orang yang kreatif dan memiliki keberagaman ide. Sehingga, dalam dimensi kreatif ini, gurunya pun harus kreatif. Tidak lagi hanya mengharapkan kemampuan siswa pada level mendeskripsikan sesuatu, namun bagaimana siswa mampu mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.

2. Critical Thinking and Problem Solving

Yang dimaksud masalah di sini ada dua macam, masalah yang sifatnya akademis dan otentis. Masalah akademis tentu saja masalah yang terkait pada ranah kognisi yang mereka jalani. Masalah otentis lebih kepada masalah yang sering mereka jumpai sehari-hari di sekitar mereka. Siswa dituntut mampu menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, siswa juga memiliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah.

3. Communication

Di abad 21, siswa yang mampu bertahan adalah yang bisa berkomunikasi dengan berbagai cara, baik tertulis maupun verbal. Siswa dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. Siswa diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah dari gurunya. Siswa tidak boleh lagi anti ICT, mereka harus biasa dengan komunikasi yang bertekhnologi. Demikian juga gurunya.

4. Collaboration

Ternyata juga, hidup di abad 21 tidak tergantung lagi pada persaingan. Justru, orang-orang sukses di abad ini adalah orang-orang yang bisa bekerja sama atau berkolaborasi dengan berbagai kepentingan. Siswa harus mampu kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab; bekerja secara produktif dengan yang lain; menempatkan empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda. Siswa juga menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat; menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain; memaklumi kerancuan.

Keterampilan abad ke-21 yang siswa asah harus bersifat  interdisipliner, terintegrasi, berbasis proyek, hingga mengaplikasikan keterampilan terbaik untuk bertahan hidup. Tony Wagner dalam bukunya Global Achievement Gap menyatakan bahwa ada 7 keterampilan utama yang wajib siswa kuasai agar bertahan hidup dan beradaptasi dengan perubahan, yaitu:


  1. Terampil berpikir kritis dan memecahkan masalah.
  2. Kolaborasi berbasis jaringan dan memimpin dengan pengaruh.
  3. Mampu mengubah arah dan bergerak secara cepat dan efektif dan beradaptasi.
  4. Memiliki daya inisiatif dan berkewirausahaan
  5. Bicara dan memiliki kemampuan menulis secara efektif.
  6. Mengakses dan menganalisis informasi.
  7. Bersikap selalu ingin tahu dan berimajinasi

Untuk mengembangkan sejumlah keterampilan itu, maka sekolah perlu mengantisipasi berbagai langkah perubahan yang meliputi komponen utama yaitu penyempurnaan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pengembangan siswa, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru, dan melaksanakan pembelajaran yang terkontrol agar sekolah dapat memastikan bahwa target mutu yang diharapkannya terwujud (GP)